Toolbar

Sunday, March 30, 2014

Pemuda pada PEMILU 2014

(lanjutan postingan sebelumnya)
Peran pemuda tak kalah penting dalam pemilu 2014 ini, bagaimana tidak, jumlah pemuda tercatat hampir 40% dari total pemilih nasional. Bisa dibayangkan jika para pemuda menggunakan hak pilihnya dengan sebaik-baiknya dan menularkan masyarakat untuk itu, bukan tidak mungkin bangsa ini dapat dipimpin oleh orang-orang yang lebih baik, berkualitas dan berintegritas. Pemuda yang mempunyai porsi besar dalam pemilu kali ini akan amat menentukan apakah pemilu ini akan menjadi ajang sandiwara para mafia, koruptor, dan pejabat kotor untuk memonopoli negeri ini, ataukah menjadi titik balik perubahan menuju Indonesia yang lebih baik. Sekali lagi frame yang harus dibentuk adalah harapan untuk bangsa ini, bukan keterpurukan.
Ketika dikatakan pemuda, erat kaitannya dengan mahasiswa. Pemilu ini seharusnya juga bisa menjadi momen untuk kita mengevaluasi apa saja yang telah dilakukan pemerintah dan parlemen selama lima tahun belakangan serta menjadi pintu gerbang untuk mengajukan kebijakan-kebijakan untuk memajukan negara dan mensejahterakan rakyat. Sehingga tak seharusnya pemuda atau mahasiswa hanya menjadi perpanjangan tangan KPU untuk mensosialisasikan #AntiGolput. Tentu hal tersebut bukan menjadi hal yang salah, setidaknya lebih baik dari pada hanya bisa menkritik padahal tidak berbuat. Namun apakah hanya itu yang dapat dilakukan?! Tentu tidak, baik dalam pileg maupun pilpres.
Bandul kebijakan sekarang tak hanya berada ditangan eksekutif, tetapi juga sudah mengarah ke legislatif. Dapat dilihat belakangan ini, beberapa kali parlemen tidak sepakat dengan pemerintah. Pemilu ini dapat dijadikan ajang untuk kita menuntut anggota dewan menyelesaikan permasalahan lima tahun ini sebelum masa jabatannya berakhir, sehingga rekomendasi kebijakan atau Judicial Review yang telah diajukan tidak digantungkan. Disini mahasiswa harus bisa meningkatkan posisi tawarnya, dimana beberapa kebijakan yang pernah ditawarkan belum diselesaikan, sebutlah RUU Migas. Ini bukan hal yang mudah, tapi ini adalah bentuk pertanggungjawaban kita dan mereka terhadap rakyat. Jika tidak begitu nampaknya posisi mahasiswa akan semakin lemah dan tak diperhitungkan lagi. Inilah yang sebenarnya harus diantisipasi, yang harus dilakukan mahasiswa adalah kerja nyata untuk bergerak. Lobi politik terhadap parpol juga harus dilakukan, sebagai langkah awal untuk memasukkan kebijakan yang baru, tak berarti menjadi kaki tangan mereka, ini tak boleh sama sekali terjadi. Posisi mahasiswa adalah lebih tinggi dibanding mereka.
Adapun dalam tingkat wilayah, dikenal organisasi kepemudaan yang disebut karang taruna. sebenarnya ini juga bisa menjadi basis pemuda di suatu wilayah, sehingga caleg-caleg yang berada dalam wilayah tersebut dapat dikawal oleh para pemuda karang taruna. Dalam hal ini ada beberapa fungsi yang dapat dilakukan yakni pengawalan Pemilu agar bebas dari kecurangan dan berasaskan lubarjurdil, kontroling caleg, jika bisa lakukan kontrak politik sehigga dapat dipertanggungjawabkan kedepannya. Pemuda menjadi organ yang sangat penting dalam hal ini untuk menggerakkan, oleh karena itu diperlukan kesinergisan antara gerak yang dilakukan agar berdampak lebih luas lagi dan saling mengisi kekurangan.
Dalam pilprespun mahasiswa harus mengambil perannya, lagi-lagi tak hanya sosialisasi dan pencerdasan kepada masyarakat, tapi langkah nyata yang diajukan langsung kepada para capres. Kumpulkan berbagai tuntutan, evaluasi, dan kebijakan yang kita inginkan dan ajukan kepada para capres. Bagaimana bisa mengajukan dengan semudah itu, tentu hal ini tak akan mudah, memastikan para caleg mengetahui apa yang kita ajukan. Untuk itu akan lebih baik jika para capres ini diundang untuk ‘sedikit berdiskusi’ dengan mahasiswa, lalu disanalah momentum untuk setiap masalah dipertanyakan kepada para capres ini. Jangan pernah ajukan pertanyaan normatif, namun pertanyaan konkret yang dapat dipertanggungjawabkan oleh para capres. Lantas semudah itukah mengungdang para capres? Jelas tidak, tapi harus diingat bahwa ada nama besar universitas, masih lekat diingatan beberapa waktu lalu dewan guru besar ui mengundang bakal calon presiden yang diperkirakan akan meramaikan Pemilu 2014. Tidak relevan jika bisa mengundang bakal capres yang belum tentu maju, namun tidak mengadakan diskusi untuk capres yang pasti maju. Namun pasti harus ada kesepakatan terlebih dahulu dengan dewan guru besar ui. Ini hanya salah satu toolsnya bukan berarti satu-satunya. Oleh karena itu manfaatkanlah setiap sumberdaya yang ada untuk merealisasikan apa tujuan yang ingin dicapai.
Tulisan ini hanya sebagai gambaran, sejatinya masih banyak yang bisa dilakukan oleh pemuda, tinggal pilihannya bergerak atau malas! Maka jangan salahkan jika pemimpin Indonesia kedepannya adalah orang-orang yang malas memikirkan rakyatnya.

No comments:

Post a Comment